Polaroid Photo

You can click the above image to access my image gallery.

LPM VISI FISIP UNS

Choose a Topic:

Site:
RSS 2 FeedAtom Feed
Post Comments:
Comments RSS Feed
Total Posts: 27Total Pages: 0Comments: 0Categories:
# of Links: 3
 

This is where your other stuff goes, in particular, AdSense Ads from Google.

Wed
13
May '09

Dosen bolos, mahasiswa senang

Bagaimana sebenarnya kinerja dosen Program S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) menurut mahasiswa? Hal ini layak untuk dipertanyakan karena setelah dilakukan jajak pendapat oleh Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) LPM VISI FISIP UNS, sebagian mahasiswa FISIP UNS belum puas dengan kinerja dosen. Namun, ironisnya sebagian mahasiswa lain tidak mempermasalahkan hal ini.

Kinerja dosen merupakan salah satu indikator keberhasilan mahasiswa dalam menempuh kuliah. Seperti yang dikemukakan Dra. Hj. Sofiah, M.Si, selaku Ketua Jurusan (Kajur) Ilmu Komunikasi, dalam suatu perguruan tinggi, dibutuhkan dosen yang benar-benar memiliki kinerja yang baik dan berkualitas bagi mahasiswa. Dosen yang ideal, menurut Sofiah, adalah dosen yang interaktif, menguasai materi, dan disiplin. ”Selain itu dosen yang baik harus dapat membawa mahasiswa pada kesadaran belajar mandiri,” tambahnya.

Namun dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Bidang Litbang LPM VISI FISIP UNS 16 Januari – 16 Februari lalu, menunjukkan bahwa 27% mahasiswa Ilmu Komunikasi menganggap kinerja dosen mereka masih buruk. Ini merupakan angka tertinggi, jika dibandingkan dengan AN (6%) dan Sosiologi (16%). Lalu bagaimana kriteria dosen yang dianggap belum dapat menjalankan tugasnya dengan baik?

Tiga Faktor Buruknya Kinerja Dosen

Dari hasil jajak pendapat tersebut, kedisiplinan merupakan faktor pertama yang dikeluhkan mahasiswa. Masih banyaknya dosen Ilmu Komunikasi yang sering datang terlambat, mengajar tidak penuh dan tidak masuk tanpa konfirmasi, ternyata menjadi masalah bagi mahasiswa. Ditambah dengan adanya beberapa dosen yang jarang masuk, bahkan masuk kurang dari empat kali. ”Kalau sekali-kali kosong tidak apa-apa, tapi kalau lebih banyak kosong daripada masuk, itu merugikan mahasiswa,” kata DS, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2004.

Untuk AN dan Sosiologi, hal tersebut tidak begitu parah. ”Sebagian besar dosen AN sudah on time, kalau tidak masuk pun sudah konfirmasi dulu dengan mahasiswa,” tutur RN, mahasiswa AN yang sedang menyusun skripsi. Menanggapi hal tersebut, Drs. Susartono, SU selaku Pembantu Dekan II, menyatakan bahwa dalam salah satu SK Rektor terdapat aturan bahwa dosen wajib hadir minimal empat kali dalam seminggu. ”Dosen harus tetap hadir setidaknya empat kali dalam seminggu, baik mengajar atau tidak, karena dosen juga sebagai tempat konsultasi mahasiswa,” tuturnya.

Faktor kedua adalah cara dosen dalam menyampaikan materi. Menurut beberapa mahasiswa, masih ada dosen yang cara mengajarnya bersifat satu arah. Seringkali dalam penyampaian materi seperti memberi ceramah, hal ini membuat mahasiswa cepat bosan. Tidak hanya di Ilmu Komunikasi, indikasi ini juga terjadi di AN dan Sosiologi. ”Setelah kuliah selesai, kita malah jadi bingung tentang materi yang diberikan,” papar YN, mahasiswa Sosiologi 2005.

Faktor ketiga yang terjadi di semua jurusan adalah sistem penilaian yang dirasa tidak adil. Padahal dalam Buku Pedoman FISIP UNS tahun 2005/2006 telah disebutkan dengan jelas cara penilaian skor akhir mahasiswa. ”Saya rajin masuk, mengerjakan tugas dengan baik dan ujian bisa mengerjakan, tetapi nilai saya tidak maksimal,” kata RT, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2006. Ada pula dosen yang dirasa tidak adil dalam penilaian. “Teman saya yang sering membolos, tidak mengumpulkan tugas, tapi nilainya lebih bagus dari saya. Apa nilai hanya ditentukan dari UAS saja? Padahal belum tentu jawaban UAS itu pemikirannya sendiri,” tambah RT.

Menurut Drs. Ign. Agung Satyawan, M.Si, selaku dosen Ilmu Komunikasi, intensitas kehadiran dan keaktifan mahasiswa memang menjadi bahan pertimbangan dalam penilaian, tetapi poin utama tetap ujian akhir. ”Ujian akhir adalah evaluasi bagi mahasiswa. Seberapa jauh menguasai materi yang telah disampaikan. Absensi dan keaktifan hanya memberi sedikit nilai tambah,” jelasnya.

Lain halnya dengan Drs. A. Eko Setyanto, M.Si, yang juga dosen Ilmu Komunikasi. Eko menyatakan bahwa ujian akhir bukan poin utama. ”Yang terpenting proses, bukan hasil akhir. Karena dalam ujian akhir banyak kemungkinan terjadi, misalnya mahasiswa tidak fit. Tentu hasil ujiannya tidak optimal. Jadi, intensitas kehadiran dan keaktifan mahasiswa juga diperhitungkan,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut Dra. Suyatmi, selaku Kajur Sosiologi, menjelaskan bahwa kriteria penilaian diserahkan kepada kebijakan tiap-tiap dosen. ”Tiap dosen memiliki kriteria penilaian sendiri. Jika ada mahasiswa yang tidak puas dengan nilai akhir, bisa meminta transparansi nilai dari dosen yang bersangkutan. Dan dosen pun harus dapat memberikan informasi yang dibutuhkan,” jelasnya.

Antara Dosen dan BINAP

Ada sebuah mekanisme untuk memberi sanksi pada dosen yang tidak disiplin, dan melakukan pelanggaran berat, yaitu pembinaan aparatur pemerintah (BINAP). Pengertian BINAP sendiri, dikatakan oleh Pembantu Dekan I, Drs. Yulius Slamet, M.Sc, merupakan suatu bimbingan dari pemerintah, sebagai tindak lanjut saat ada pegawai negeri, dalam hal ini dosen, melanggar aturan, telah mendapatkan peringatan baik lisan maupun tertulis tetapi tidak diindahkan.

Slamet juga menambahkan bahwa sudah ada dosen di salah satu jurusan di FISIP yang di BINAP. Hal ini diamini oleh Susartono, ”Memang ada dua dosen kita yang di BINAP. Jika BINAP tidak menghasilkan perubahan, dosen yang bersangkutan dapat dimutasi atau bahkan dipecat.”

Menurut Sofiah, pelaksanaan tanggung jawab dosen diserahkan sepenuhnya kepada dosen itu sendiri. Jika ada pelanggaran pihak jurusan hanya bisa memberikan teguran. ”Pihak jurusan tidak bisa memberikan sanksi berat, misalnya skorsing, karena jurusan tidak memiliki wewenang tersebut,” ujar Sofiah.

Dalam SK Rektor UNS No. 45/J27/KP/2000 disebutkan bahwa telah ada badan yang memiliki wewenang untuk mengawasi pelaksanaan Kode Etik Dosen dan menindak jika terjadi pelanggaran, tetapi sampai saat ini dewan tersebut belum terbentuk. Saat ditanya lebih lanjut, Susartono menyatakan pembentukan dewan tersebut masih dalam proses, ”Diusahakan agar dewan tersebut segera terbentuk dan segera menjalankan tugasnya,” terangnya.

Mahasiswa Kurang Respek

Walaupun kinerja dosen dianggap belum maksimal, menurut Susartono, hal ini bukan kesalahan dosen semata. Ini juga disebabkan karena mahasiswa kurang aktif dan bersikap masa bodoh. ”Mahasiswa yang aktif di kelas hanya sekitar lima sampai sepuluh persen saja,” ungkapnya. Dari beberapa mahasiswa yang kami wawancarai, ternyata mereka tidak keberatan jika ada dosen yang tidak on time, bahkan merasa senang jika ada mata kuliah yang kosong. ”Kalau ada dosennya terus rasanya juga bosan”, kata TF, salah satu mahasiswa Administrasi Negara 2005.

Ironisnya, hasil wawancara Acta Diurna menunjukkan ada sebagian mahasiswa cenderung keberatan jika ada dosen yang on time dan mengajar dengan jam penuh, ”Kalau dosen mengajar penuh, rasanya tidak efektif, kita jadi jenuh dan akhirnya mengobrol dengan teman. Jadi kita tidak keberatan kalau dosen menyudahi kuliah lebih awal,” tutur AD, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2004.

Ini pula yang disayangkan oleh Susartono, ”Seharusnya mahasiswa juga berperan aktif. Jika dirasa dosen kurang bertanggung jawab, mahasiswa berhak melapor pada kajur, dan nantinya pihak jurusan akan mengambil sikap.”

Berbeda dengan Ari, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2005, yang menyatakan kekecewaannya terhadap kinerja dosen. ”Sebagian dosen masih kurang berbobot dalam memberi materi dan masih ada yang tidak on time. Seharusnya kinerja dosen lebih diperbaiki lagi,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Agung menjawab, ”Kalau ada mahasiswa yang merasa dirugikan oleh dosen, baik itu dosen yang tidak on time atau dosen yang dirasa kurang jelas dalam pemberian materi, mahasiswa dapat komplain langsung kepada dosen.”

Alternatif lain jika mahasiswa segan untuk komplain juga dijelaskan oleh Agung, ”Jika merasa canggung, bisa melalui perwakilan kelas atau sharring dengan kajur. Tanpa laporan mahasiswa, kami juga tidak menyadari kalau ternyata kami merugikan atau cara kami dalam menyampaikan materi kurang tepat bagi mahasiswa. Dengan pemberitahuan kami dapat menjadikannya masukan untuk perbaikan selanjutnya.” (Yaninta, Mita, Dinda, Monik)

Leave a passing comment »

Leave a Reply