Polaroid Photo

You can click the above image to access my image gallery.

LPM VISI FISIP UNS

Choose a Topic:

Site:
RSS 2 FeedAtom Feed
Post Comments:
Comments RSS Feed
Total Posts: 27Total Pages: 0Comments: 0Categories:
# of Links: 3
 

This is where your other stuff goes, in particular, AdSense Ads from Google.

Wed
13
May '09

Menuju “FISIP EMAS”, Sudah Siapkah Kita???

Memasuki kepemimpinan dekan periode 2007-2011, civitas akademika Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) akan dibawa menuju FISIP EMAS. Hal ini antara lain ditandai dengan dijalankannya SIAKAD (sistem informasi akademik) on-line, program pengadaan AC dan LCD, peningkatan humas, pembuatan company profile, pararelisasi telepon, serta pemberdayaan komponen. Namun dengan melihat kondisi FISIP UNS saat ini, sudah siapkah kita menjalankannya?

Berdasarkan SK Rektor UNS Nomor 316/J27/KP/2007 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Dekan Fakultas di Lingkungan Universitas Sebelas Maret, Drs. H. Supriyadi SN, SU diangkat menjadi Dekan FISIP periode 2007-2011. Visinya adalah mewujudkan masyarakat akademik yang jujur, visioner, dan adil menuju FISIP EMAS. FISIP EMAS ini diartikan Supriyadi sebagai FISIP yang ideal dan harmonis baik di bidang akademik maupun non akademik. Ketika ditanya tim Acta Diurna, Supriyadi menjelaskan akan membuat program kerja jangka pendek, menengah, dan panjang untuk mewujudkan Visi tersebut.

“Program kerja jangka pendek yang segera saya jalankan antara lain pelaksanaan SIAKAD on-line, pembuatan company profile dan peningkatan humas,” jelasnya. Berdasarkan Buku Pedoman Pendidikan UNS tahun 2005, SIAKAD on-line dimaksudkan sebagai pengolahan data/administrasi akademik yang menghasilkan laporan hasil studi mahasiswa tiap semester beserta sistem peringatan dini mengenai capaian SKS serta hasil akhir studi mahasiswa (Transkip Akademik) di www.siakad.uns.ac.id.

Menurut Supriyadi, SIAKAD on-line harus segera dilaksanakan guna menanggapi rencana strategis UNS menuju world class university. Oleh karena itu pada tahun pertama kepemimpinannya, Supriyadi menyatakan harus segera merealisasikan pelaksanaan program kerja ini. “Program ini tidak terlepas dari berbagai hambatan, baik yang bersifat teknis maupun non teknis,” tuturnya. Untuk menghadapi hambatan teknis, misalnya jaringan internet error, Supriyadi akan menyerahkan pada teknisi yang berkompeten. Sedangkan untuk masalah nonteknis seperti kurang siapnya sumber daya manusia, dirinya akan mengadakan training terlebih dulu untuk dosen dan karyawan yang bersangkutan.

Menanggapi hal ini, Kepala Sub Bagian Pendidikan, Drs. Widodo, M.Soc.Sc, mengatakan bahwa bagian pendidikan sudah siap melaksanakan SIAKAD on-line, baik dari segi teknis maupun nonteknis. “Sepanjang ada dana dan kemauan dari pimpinan, serta ada kesiapan dari UPT PUSKOM (Pusat Komputer.red), kita juga sudah siap,” jelasnya lagi.

Gladis Citra Dewi, mahasiswi Administrasi Negara 2006, mengatakan, “Saya sudah siap dengan rencana pelaksanaan SIAKAD on-line.” Hal yang sama juga dipaparkan Melina Permata S, mahasiswi Ilmu Komunikasi 2005, “Saya sudah siap dengan penggunaan SIAKAD on-line. Tapi bagaimana dengan peran Pembimbing Akademik (PA.red)? Setahu saya, dengan SIAKAD on-line, mahasiswa sudah tidak perlu berkonsultasi pada PA saat menyusun KRS (Kartu Rencana Studi.red).”

Menjawab hal ini, Supriyadi menyatakan pelaksanaan SIAKAD on-line tidak mengurangi fungsi PA. Menurutnya fungsi PA tidak hanya untuk konsultasi KRS saja, namun juga sebagai tempat konsultasi berbagai masalah studi, misalnya pembuatan skripsi dan masalah perkuliahan sehari-hari.

Program kerja jangka pendek yang juga akan segera dijalankan Supriyadi adalah peningkatan kehumasan FISIP. “Baik atau buruknya citra fakultas, sedikit banyak juga tergantung pada pengelolaan humas,” terangnya. Oleh karena itu, setelah pihak dekanat yang baru terbentuk, dirinya akan membuat Unit Humas di FISIP. “Unit humas ini akan bertugas menunjukan keunggulan citra FISIP pada masyarakat luas. Juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik intern maupun ekstern,” jelasnya.

Sebenarnya selama ini di FISIP sudah ada staf yang mengurusi bagian humas. Namun masih menjadi bagian dari Sub Bagian Pendidikan, sehingga kerjanya belum maksimal. Hal ini seperti yang diungkapkan Maryani, S.Sos, Staf Humas di Bagian Pendidikan. “Selama ini kinerja humas belum maksimal karena fokus kerja kita terbagi-bagi dengan urusan pendidikan,” kata Maryani. Dia setuju dengan rencana pembentukan Unit Humas di FISIP, karena menurutnya hal itu akan meringankan beban kerjanya. Dia juga mengharapkan setelah unit tersebut terbentuk, akan lebih bisa memajukan citra FISIP. Sedangkan untuk masalah kerja sama, selama ini sudah dikelola oleh Unit Kerja Sama di FISIP, yang dikepalai oleh Drs. Mahendra Wijaya, MS. Ketika dimintai pendapat mengenai akan dibentuknya Unit Humas di FISIP, Mahendra mengatakan tak keberatan, asalkan konsepnya jelas.

Program kerja lainnya yang juga akan segera dilaksanakan pada tahun pertama kepemimpinan Supriyadi adalah pembuatan company profile mengenai FISIP. Sedangkan untuk program kerja jangka menengah yang akan dijalankan Supriyadi pada tahun kedua dan ketiga, yaitu program pengadaan AC dan LCD, serta pararelisasi telepon di setiap ruangan kecuali ruangan kuliah. Terkait dengan hal ini, Kepala Sub Bagian Umum dan Perlengkapan, Nanik Tina Yulia, S.Pd, mengatakan yang akan menjadi kendala utama untuk merealisasikan semua program itu adalah terbatasnya dana yang ada.

Pendapat yang sama juga dikemukakan Dra. Suyatmi, MS, Pembantu Dekan (PD) III, “Selama ini keterbatasan dana menjadi kendala untuk perbaikan fasilitas di FISIP.” Sehingga pimpinan yang baru diharapkan nantinya bisa mengalokasikan anggaran yang tepat sasaran,” tambahnya. Hal yang sama juga dinyatakan Drs. Ign. Agung Satyawan, M.Si, dosen Ilmu Komunikasi, “Semua program kerja itu bisa terlaksana dengan baik asalkan ada dukungan dana yang cukup.”

Lain halnya dengan Nanik dan Suyatmi, mantan PD II, Drs. Susartono, SU, berpendapat bahwa keterbatasan dana bukan menjadi kendala utama. “Keterbatasan dana bukanlah kendala utama, yang harus lebih diperhatikan adalah masalah pengelolaan manajerialnya.” Menjawab hal ini, Supriyadi mengatakan “Setelah dekanat yang baru terbentuk, kami akan mempelajari RAPB (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja.red) fakultas periode yang lalu. Kemudian kita akan menindaklanjuti kelebihan dan kekurangannya.”

Untuk mengatasi keterbatasan dana, nantinya pihak dekanat akan berusaha mencari proyek atau sponsor dari berbagai pihak. “Dari pihak internal, seandainya memungkinkan, kita akan meminta bantuan dana dari IOM. Tidak harus berwujud uang, tetapi bisa juga berwujud produk. Begitu juga dengan pihak eksternal, kita akan berusaha mencari proyek untuk mengatasi keterbatasan dana,” ujarnya. Tetapi ini semua masih rencana Supriyadi sendiri, belum menjadi keputusan bersama.

Sedangkan mengenai masalah manajerial, Supriyadi berjanji akan lebih meningkatkan pengelolaan manajerial di FISIP. Misalnya untuk masalah keamanan, dia berancana akan mengadakan training untuk satpam di FISIP. Training ini akan dilaksanakan secara periodik dan kontinyu.

Kemudian untuk program jangka panjang, Supriyadi mengatakan “Program jangka panjang meliputi kesejahteraan dosen dan karyawan, pemberdayaan mahasiswa, dan pemberdayaan fakultas. Hasilnya tidak bisa kita lihat langsung, namun dibutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya.”

Tindak Lanjut atas Rekomendasi Mahasiswa

Pada acara Lokakarya Pemilihan Dekan FISIP UNS (26/04), Forum Keluarga Mahasiswa (FKM) mengajukan surat rekomendasi mahasiswa yang antara lain berisi: Silabi mata kuliah dimasukkan ke buku panduan fakultas, transparansi nilai, optimalisasi Pembimbing Akademik, pengadaan internet, fotokopi, dan pengkondisian perpustakaan, optimalisasi fungsi kontrol PD II terkait dengan fasilitas-fasilitas fakultas, serta penguatan jaringan kepada alumni FISIP UNS. Surat rekomendasi ini telah ditandatangani oleh calon dekan saat itu, termasuk Supriyadi.

Ketika ditanya Acta Diurna apakah surat rekomendasi tersebut akan ditindaklanjuti atau tidak oleh pihak dekanat, Supriyadi menjawab “Tentu saja akan ditindaklanjuti, namun belum tentu semuanya dapat dijalankan.” Supriyadi menyatakan rekomendasi itu hanya bersifat masukan, dan masukan itu tidak hanya berasal dari mahasiswa, namun juga dari dosen dan karyawan. “Dari berbagai masukan tersebut, akan diolah oleh dekanat, lalu kami akan memilih program mana yang harus diprioritaskan terlebih dulu,” tambahnya.

Menanggapi tindak lanjut atas surat rekomendasi tersebut, Nur Islami, Menteri Dalam Negeri BEM FISIP, mengatakan bahwa BEM tidak punya hak untuk mengawasi jalannya pelaksanaan surat rekomendasi mahasiswa. “Yang berhak mengawasi adalah FKM, sedangkan BEM hanya bisa menjadi fasilitator,” tutur Nur. Sedangkan menurut Haris Firdaus, salah satu anggota FKM, pengawasan tindak lanjut surat rekomendasi mahasiswa tidak akan efektif jika kewenangannya diserahkan pada FKM. “Karena FKM merupakan forum yang terbentuk secara insidental, sehingga belum terstruktur dengan baik,” tambah Haris. Dia juga menyarankan agar yang mengawasi sebaiknya adalah lembaga yang sudah terstruktur seperti BEM atau DEMA.

Menurut Drs. Budiharjo, M.Si, dosen Ilmu Administrasi Negara sekaligus sekretaris senat fakultas, rekomendasi itu akan dapat terlaksana semuanya jika mahasiswa memperjuangkannya secara kontinyu. Tetapi harus dengan etika, misalnya dengan forum dialog melalui lembaga seperti BEM atau DEMA, tidak dengan cara arogan seperti demonstrasi.

Menanggapi semua program kerja yang dibuat Supriyadi, Drs. Pawito, Ph.D, salah satu anggota senat fakultas, mengatakan “Sebaiknya kita mencermati dari sekarang, program mana saja yang terlaksana, dan mana yang tidak. Agung pun menambahkan “Saya berharap semua itu tidak hanya sekedar janji manis belaka, namun direalisasikan dengan terencana dan terukur.” (Mita, Yaninta, Ivan, Valui)

Leave a passing comment »

Leave a Reply