Polaroid Photo

You can click the above image to access my image gallery.

LPM VISI FISIP UNS

Choose a Topic:

Site:
RSS 2 FeedAtom Feed
Post Comments:
Comments RSS Feed
Total Posts: 27Total Pages: 0Comments: 0Categories:
# of Links: 3
 

This is where your other stuff goes, in particular, AdSense Ads from Google.

Wed
13
May '09

Nora Nallul Amal “Di mana ada kemauan, Di situ ada jalan”

“Sekolah di luar negeri bagi mahasiswa FISIP UNS, itu bukan mimpi. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan,” demikian diungkapkan Nora Nallul Amal.

Nama Nora Nallul Amal mungkin asing bagi sebagian besar mahasiswa FISIP UNS terutama jurusan Ilmu Komunikasi. Hal ini dapat dimaklumi karena dosen mata kuliah humas di FISIP UNS sejak tahun 2004 ini sedang study lanjut di The University of Newcastle, Australia sejak tahun 2005. dia mengambil program master bidang leadership and management in education dengan konsentrasi public relation pendidikan tinggi. “Tetapi ada hal yang perlu diperhatikan, public relation di Australia lebih mengarah pada bidang ekonomi dan manajemen, bukan komunikasi,” jelas Nora.

Ketika ditanya tentang bagaimana proses seleksi hingga dirinya mendapatkan beasiswa kemitraan Indonesia-Australia (Ausaid) tersebut, dia mengatakan bahwa proses seleksinya tidak terlalu sulit. Menurut wanita yang sempat kuliah di jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP UNS selama satu tahun yang pada akhirnya pindah ke jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS pada tahun 1999 ini, dulunya dia bukan mahasiswa yang terlalu menonjol dalam bidang akademik.

Menurut Nora, segala sesuatu harus diawali dengan rasa percaya diri. Perkataannya ini dia buktikan lewat keputusannya mengikuti seleksi beasiswa kemitraan. Isteri Alwan Jihadi ini bercerita bahwa dirinya adalah satu dari dua orang yang diterima seleksi dari sekian banyak pendaftar beasiswa Ausaid di UNS. “Kuncinya confidence dalam pengisian formulir dan kemampuan berbahasa Inggris yang bagus serta punya plan yang jelas saat wawancara,” ungkapnya.

Untuk masalah kemampuan berbahasa Inggris dan bagaimana beradaptasi dengan budaya Australia, wanita yang hobi berenang ini menjelaskan bahwa pihak pemberi beasiswa memberikan kursus bahasa Inggris beserta muatan budaya Australia kepada peserta yang lolos seleksi. Sehingga dia mengaku tidak terkendala sama sekali dalam penggunaan bahasa Inggris serta beradaptasi dengan budaya yang baru. Apalagi pada awal karirnya pernah bekerja sebagai humas di Language Centre Unit Pelaksana Teknis Pelayanan dan Pengembangan Bahasa (UPTP2B)UNS.

Setelah 1,5 tahun berada di Australia, dia mengatakan bahwa memang tidak ada kendala apapun yang berkaitan dengan bahasa ataupun adaptasi dengan budaya baru karena orang-orang Australia ramah-ramah dan cukup paham dengan kendala yang dialami pendatang. Hanya saja yang perlu diperhatikan di Australia adalah pola pembelajarannya. Menurut wanita yang lahir di Tegal pada 28 April 1981 ini, pola pembelajaran di Australia adalah belajar tuntas. Mahasiswanya belajar teori berikut dengan aplikasinya secara tuntas dan jelas. “Sistem pengajarannya menggunakan sistem dan target yang jelas, materinya pun sangat banyak. Sehingga mahasiswa tidak akan takut kekurangan bahan untuk dipelajari. Apalagi, fasilitas perpustakaan mendukung sistem tersebut karena buka setiap hari,” tambah Nora.

Lalu, wanita yang hingga kini tinggal di sebuah flat di Jesmond, New South Wales, Australia inii juga menjelaskan bahwa pola pendidikan antara Australia dan Indonesia juga memiliki perbedaan. Ibu dari Barran Najih (2) dan Aulan Najih (3 bulan) ini mengatakan bahwa perbedaan mendasar adalah Indonesia negara berkembang dan Australia negara maju. Sehingga dapat dimaklumi kalau secara sumber daya, Indonesia masih sangat kurang. Namun, dia tetap yakin bahwa Indonesia bisa memakaii sistem pendidikan yang lebih baik. “Sistem pendidikan yang lebih baik dapat terwujud apabila korupsi dihentikan dan gizi ditingkatkan sehingga bangsa bisa cerdas dan bersemangat,” ungkap wanita yang saat kuliah aktif di radio Fiesta, Kine Club, dan Paduan Suara UNS.

Di akhir wawancara, wanita yang beralamat asli di Windan Baru, Makamhaji, Kartasura inii menegaskan bahwa setiap mahasiswa, khususnya mahasiswa FISIP yang tertarik study lanjut di luar negeri memiliki kesempatan yang besar. “Mahasiswa harus aktif untuk mencari informasi beasiswa.. Selain itu, yang lebih penting lagi adalah mengasah kemampuan berbahasa Inggris dan jangan ragu-ragu untuk mencari ilmu di luar ruang kelas, bisa melalui organisasi, buku, atau sumber ilmu lain yang tidak terbatas pada lini kekampusan. Dan yang lebih penting lagi adalah mahasiswa tidak perlu terlalu komplain dengan keadaan kampus karena kita (kampus dan mahasiswa-red) sama-sama sedang membangun,” paparnya menutup pembicaraan. (Ivan, Sumi)

Leave a passing comment »

Leave a Reply