Polaroid Photo

You can click the above image to access my image gallery.

LPM VISI FISIP UNS

Choose a Topic:

Site:
RSS 2 FeedAtom Feed
Post Comments:
Comments RSS Feed
Total Posts: 27Total Pages: 0Comments: 0Categories:
# of Links: 3
 

This is where your other stuff goes, in particular, AdSense Ads from Google.

Wed
13
May '09

Bila Magang Tak Sesuai Harapan

Pelaksanaan Kegiatan Magang Mahasiswa (KMM) di Jurusan Adiminstrasi Negara dan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret dianggap kurang maksimal. Beberapa mahasiswa menganggap KMM hanya ajang untuk menambah pengalaman atau sekedar memenuhi tuntutan kurikulum. Benarkah demikian?

Saat ditanya mengenai proses magang yang dijalaninya beberapa bulan lalu, Wahyu (bukan nama sebenarnya-red) tampak merenung sebentar. Mahasiswa Administrasi Negara (AN) 2004 itu seperti mencoba mengingat-ingat kembali proses magang yang telah dilaluinya. Beberapa saat kemudian, dengan ekspresi kurang puas, ia menjawab, “Sebenarnya saat magang saya berharap bisa mengaplikasikan teori yang saya dapat. Tapi kenyataannya, saya tidak mendapatkan hal itu.”

Wahyu menambahkan, saat magang di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Solo, ia lebih banyak mengamati proses kerja di sana. “Selain itu, saya hanya disuruh membantu pengurusan kartu kuning untuk kepentingan tenaga kerja. Padahal, saya ingin mencari tahu bagaimana kebijakan Disnaker terhadap orang-orang yang mencari kerja,” tegasnya saat ditemui, Selasa (30/10), di Gedung Keluarga Mahasiswa (KM) FISIP UNS.

Hal serupa juga dirasakan oleh Sani (bukan nama sebenarnya-red), yang juga mahasiswa AN 2004. Dia mengungkapkan, kalau magang hanya sebatas memberi pengalaman saja. “Ketika magang di Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglimas) Surakarta, saya kurang dilibatkan. Saya malah disuruh membantu bidang administrasi seperti mengurus surat-surat penelitian,” ujarnya, Selasa (30/10), di Gedung KM FISIP UNS.

KKA dan Magang Sosiologi Belum Efektif

Pengakuan Wahyu dan Sani yang merasa bahwa magang hanya sebatas menambah pengalaman saja, menunjukkan pelaksanaan magang atau Kegiatan Magang Mahasiswa (KMM) di Jurusan AN berjalan kurang efektif. Padahal tujuan KMM, berdasar Surat Keputusan (SK) Rektor No. 373/J 27/PP/2005, adalah sebagai upaya penyelarasan pencapaian pembelajaran di kampus dengan perkembangan dinamika masyarakat dan industri. Selain itu, juga sebagai strategi pemberdayaan mahasiswa melalui pengayaan wawasan dan peningkatan kompetensi dalam rangka peningkatan kualitas lulusan.

Menanggapi adanya ketidakpuasan mahasiswa terhadap proses magang, pihak Jurusan AN mengakui bahwa Kuliah Kerja Administrasi (KKA)—sebutan resmi bagi KMM di Jurusan AN—memang belum efektif. ”Pelaksanaan KKA memang belum terlalu efektif karena baru berjalan dua tahun,” papar Sekretaris Jurusan AN Drs. Agung Priyono, saat ditemui di Kantor Jurusan AN, Selasa (30/10).

Selama ini, pelaksanaan KKA hanya mengacu pada SK Rektor No. 373/J 27/PP/2005. Padahal, SK itu hanya mengatur KMM secara umum. Jurusan AN, menurut Agung Priyono, belum memiliki konsep aturan magang secara tertulis yang mengatur bagaimana seharusnya mahasiswa melaksanakan magang.

Berbeda dengan Jurusan AN, Jurusan Sosiologi mempunyai aturan tertulis tentang Magang Sosiologi—sebutan resmi bagi KMM di jurusan itu—yang biasanya ditempel di depan kantor jurusan. Dalam peraturan yang disebut sebagai Pedoman Magang Mahasiswa Sosiologi itu, disebutkan magang bertujuan untuk memberikan pengalaman bekerja bagi mahasiswa dan harus dilakukan selama dua bulan.

Seperti KKA, Magang Sosiologi juga baru berjalan dua tahun. Sebelumnya, magang di Jurusan Sosiologi disebut Kuliah Kerja Sosiologi (KKS). “Dalam KKS, mahasiswa hanya diminta melakukan penelitian di tempat yang ia pilih. Sedangkan dalam Magang Sosiologi, mahasiswa melakukan praktek kerja sesuai dengan karakteristik lembaga yang ia pilih, tetapi tetap harus ada kaitannya dengan Ilmu Sosiologi,” ungkap Ketua Jurusan Sosiologi Dra. Trisni Utami, M.Si, Senin (5/11), di kantornya.

Namun menurut Rahma, mahasiswa Sosiologi angkatan 2003, kerja praktek dalam Magang Sosiologi yang ia jalani tak ada kaitannya sama sekali dengan ilmu yang ia peroleh di bangku kuliah. ”Yang saya lakukan ketika magang di Dinas Sosial Kota Solo hanya mengurus surat keluar masuk. Kalau gak ada kerjaan, paling ngerumpi dan baca-baca buku,” tuturnya saat ditemui di depan Kantor Jurusan Sosiologi, Selasa (20/11).

Hal senada juga diungkapkan Intan, mahasiswa Sosiologi angkatan 2003 yang melakukan magang di Telkom Solo. ”Di tempat magang, saya menjadi customer service dengan tugas menulis berita di milis dan membuat memo. Hal ini kan gak ada kaitannya dengan teori Sosiologi,” paparnya, Selasa (20/11), di depan Kantor Jurusan Sosiologi.

Bagi beberapa mahasiswa Sosiologi, magang yang mereka jalani sebenarnya hanya untuk memenuhi kewajiban saja. “Bagi saya, magang itu hanya untuk memenuhi kewajiban saja. Agar kita tidak mendapat nilai nol dalam Mata Kuliah Magang Sosiologi,” papar Senja, mahasiswa Sosiologi angkatan 2003, saat dimintai keterangan di depan Kantor Jurusan Sosiologi, Selasa (20/11).

Pengakuan beberapa mahasiswa Sosiologi di atas menunjukkan Magang Sosiologi belum berjalan efektif. Belum maksimalnya peran dosen pembimbing juga makin menambah masalah dalam proses Magang Sosiologi. Terkait dengan ini, Senja mengatakan, ”Ada teman saya yang ditegur oleh pembimbing di tempat magang karena tidak ada dosen yang mengecek mahasiswa ke lembaga.“

Idealnya, menurut Trisni, dosen pembimbing aktif memantau mahasiswa yang sedang melakukan magang. “Seharusnya dosen pembimbing memonitor mahasiswa dalam proses magang. Setelah magang, mahasiswa membuat laporan yang harus dinilai dan diujikan oleh dosen pembimbing,” papar dia.

Berbeda dengan beberapa mahasiswa AN dan Sosiologi, Pembantu Dekan (PD) I FISIP Drs. Priyanto Susiloadi, M.Si menganggap pelaksanaan KKA dan Magang Sosiologi berjalan cukup efektif. “Saya rasa pelaksanaannya relatif efektif, masalah sebenarnya ada pada waktu. Ada mahasiswa yang magang terbentur dengan jadwal kuliah,” kata dia, Rabu (21/11), di Ruang Dekanat FISIP.

Namun Agung Priyono berpendapat sebaliknya. Ia mengungkapkan, “Meski pelaksanaan KKA berjalan lancar, tapi masih kurang efektif. Kadang dari institusi mitra sendiri kurang siap dan kurang mendukung.” Hal senada juga diungkapkan oleh Trisni. “Dalam pantauan saya, ada beberapa mahasiswa yang kurang tepat memilih lembaga. Ke depan, jurusan akan lebih selektif dalam melihat apakah lembaga yang dipilih mahasiswa sudah sesuai atau belum,” papar dia.

Perlu Tindak Lanjut

Belum efektifnya pelaksanaan KKA dan Magang Sosiologi tentu saja membutuhkan perbaikan dan tindak lanjut dari pihak jurusan. Menurut Agung Priyono, perlu perbaikan terhadap konsep KKA yang selama ini ada. ”KKA memang perlu direkonstruksi ulang. Kurikulum perlu dibenahi dengan mencari kompetensi apa yang akan dibentuk,” kata Agung Priyono.

Pada 24 November lalu, Jurusan AN telah mengadakan Lokakarya Pengembangan Kurikulum. Dalam lokakarya yang mengundang dosen, para pakar, lulusan, dan perwakilan mahasiswa itu, dilakukan evaluasi terhadap kurikulum yang sudah ada, termasuk tentang KKA. ”Pada bulan Januari 2008 nanti akan dilakukan tindak lanjut terhadap hasil lokakarya. Diharapkan hasilnya bisa mengarahkan jurusan dalam memilih institusi yang betul-betul dapat diintegrasikan dengan kurikulum kita,” kata Agung Priyono.

Berbeda dengan Jurusan AN, Jurusan Sosiologi akan bekerja sama dengan pihak luar guna membenahi Magang Sosiologi. ”Dulu pernah ada tawaran dari Lembaga Pendidikan dan Pengembangan (LPP) UNS untuk mencarikan tempat magang bagi mahasiswa Sosiologi. Tawaran itu bisa saja kita terima, asalkan mahasiswa setuju,” ungkap Trisni. (Diyah, Monik)

Leave a passing comment »

Leave a Reply