Polaroid Photo

You can click the above image to access my image gallery.

LPM VISI FISIP UNS

Choose a Topic:

Site:
RSS 2 FeedAtom Feed
Post Comments:
Comments RSS Feed
Total Posts: 27Total Pages: 0Comments: 0Categories:
# of Links: 3
 

This is where your other stuff goes, in particular, AdSense Ads from Google.

Wed
15
Jul '09

Prof. Dr. R. B. Soemanto, M. A Pecah Telor Guru Besar di FISIP UNS

“Saya senang dan bahagia, Guru Besar merupakan jenjang yang tinggi di perguruan tinggi, saya juga bangga apalagi di FISIP saya pecah telor (pertama-red),”  ungkap Prof. Dr. R.B.Soemanto, M.A ketika ditanya perasaannya setelah kini menjadi seorang Guru Besar. Soemanto memang pantas bangga karena Ia baru saja dikukuhkan menjadi Guru Besar pada 29 Desember 2007 lalu. Pidato yang berjudul “Tantangan Pelaksanaan Otonomi Daerah; Perspektif Hukum dan Perubahan Sosial” menjadi saksi pengukuhannya.
Namun disamping rasa bangga tersebut, ada konsekuensi yang harus ditanggung dosen lulusan S2 di Australia National University (ANU) itu. “Saya memiliki tanggung jawab moral dan akademis karena sebagai Guru Besar yang menjadi panutan. Pemikiran dan tingkah laku saya menjadi contoh di kehidupan kampus dan di masyarakat,”ujarnya dalam perbincangan Sabtu (19/1) kemarin seusai mengajar di pascasarjana.
Menurut bapak dari tiga anak, Apolominia Paramita Ayuningtyas, S.Sos., Yosep Anugrahadi Barata, dan Elisabet Dyani Samantha ini menjadi seorang Guru Besar bukanlah hal yang sulit. Semua dosen bisa mendapatkan gelar tersebut. “Yang penting mendaftar, harus sudah mendapat gelar doktor dan memenuhi angka kredit minimal 850. Angka kredit itu ya dari pendidikan, penelitian, pengabdian pada masyarakat, serta penulisan karya ilmiah seperti buku dan jurnal,” jelas Soemanto.
Soemanto termotivasi menyelesaikan jenjang Guru Besar tersebut. Menurutnya guru besar sangat diperlukan untuk mendukung pengembangan suatu perguruan tinggi. Salah satunya sebagai syarat untuk membuka program pascasarjana.
Selain prestasinya menjadi Guru Besar FISIP yang pertama, dia telah berhasil menulis 6 buku ilmiah. ”Sampai sekarang saya masih ingin terus berkarya karena melalui buku saya bisa membagi ilmu kepada pembaca,” tambahnya.
Pria kelahiran Klaten 1947 yang sejak SD sudah memiliki cita-cita melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi ini, saat ini masih aktif mengajar mata kuliah yaitu  Sosiologi Hukum, Sosiologi Pariwisata, Sosiologi Modern serta  mengajar di program pascasarjana di Fakultas Hukum dan Pertanian.
Dosen yang kini secara otomatis bergabung menjadi anggota dewan senat Fakultas sekaligus Universitas ini memiliki pandangan hidup yang bagus. Baginya hidup adalah hari ini (life is today). ”Kemarin adalah kenangan yang akan diingat atau dilupakan. Hari ini adalah saatnya untuk berkarya, melakukan perbuatan baik, bukan untuk menyakiti orang lain. Sedangkan besok adalah misteri yang kita tidak tahu,” jelas Soemanto.
Dalam perbincangan terakhir Bapak dari tiga anak yang beralamat di Jl. Arumndaru  I Nomor 3 Mangkubumen, Surakarta ini menitipkan pesan kepada rekan-rekan dosennya untuk bersemangat. “Dosen itu harus seperti mata air yang selalu mengalir. Sebagai dosen kita harus selalu mengembangkan diri,” pesan Soemanto untuk rekan-rekan dosennya. “Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus bisa meningkatkan prestasinya dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan baik dari dosen maupun Fakultas, “tambahnya. (Wida, Esti)

Leave a passing comment »

Leave a Reply